Senin, 08 November 2010

Pengantin Berkacamata Hitam

Di desa-desa di wilayah Kabupaten Mandailing, Natal, Sumatera Utara, prosesi perkawinan biasanya masih dilakukan secara tradisional. Acara biasanya diawali dengan iring-iringan mempelai pria beserta keluarganya berjalan kaki menuju ke rumah mempelai wanita. Acara kemudian dilanjutkan dengan ijab kabul atau janji pernikahan seperti pada umumnya. Lalu diikuti oleh pemberian nasihat-nasihat dari para tetua adat atau tokoh desa.
Yang menarik, selama prosesi itu pengantin pria mengenakan kacamata hitam. Konon ini untuk mengurangi rasa malu karena dia seharian menjadi tontonan orang banyak. Kacamata hitam itu dipakai sejak iringan berjalan di sore hari sampai acara ijab kabul di malam hari.
Belakangan ini mempelai pria biasanya malu memakai kacamata hitam, terutama di malam hari. Seperti tuna netra saja, begitu kata orang-orang. Kini kacamata hitam biasanya diganti dengan kacamata berwarna bening kecoklatan atau bening saja.
Di malam hari biasanya digelar pentas musik oleh band kampung setempat. Lagu biasanya didominasi lagu-lagu dangdut. Kadang lagu rock Malaysia. Kadang yang tampil adalah kelompok nasyid atau kasidah.
Jika mempelai wanita mantan vokalis grup musik, sudah pasti ia akan didaulat menyanyi. Pada saat pentas musik sedang berlangsung, sebagian penonton juga naik panggung untuk nyawer menyerahkan lembaran uang kertas.
Nyawer ini bisa bermakna ganda. Pertama sebagai sumbangan alias kado pernikahan. Kedua sebagai bentuk permintaan untuk terus menyanyi. Makin banyak yang nyawer, berarti makan banyak penggemarnya. Itu menunjukkan popularitas mempelai saat masih gadis. Makin banyak yang nyawer, berarti makin banyak yang patah hati karena sejak saat itu wanita tersebut sudah menjadi milik orang.

(Sumber: Intisari Juli 2010)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar